Perdebatan Tiada Akhir: Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak?

Kita masih disibukkan oleh persoalan-persoalan duniawi, bahkan rentan perdebatan, hingga berakhir pada hilangnya kawan, pacar dan perceraian. Naudzubillah, semoga kita tidak termasuk pada golongan tersebut. Memang menakutkan jika hal demikian terjadi pada kita. Mungkin kita tiba-tiba nangis dipojokan, berenang ketepian, minum-minum hingga pingsan. Semua karena perpisahan, pasti akibat dari perdebatan. Seperti mempersoalkan perkara siapa sesungguhnya Puff, mengapa Tuan Krab bisa punya anak Paus. Hingga yang paling viral, benarkah Gaj Ahmada Islam. 

Minimal kita mau membuka pikiran, seperti Spongebob yang selalu ceria tak punya prasangka. Semangatnya sungguh mencerminkan Rahmatan Lil Alamin, bukan suudzon melulu. Menganggap mereka hanya kafir akatsuki, yang tak layak dimaafkan. Apakah semua itu warisan, hingga hari ini kita tidak tahu, siapa orang tua Rock Lee. Mengapa Guru Guy mau mewariskan gaya rock and rollnya pada Rock Lee. Bukan lagi persoalan ghaib, namun sudah menjadi real. 

Kita mudah terjebak dalam kebaperan, ketika Bastian Stell dapat meluluhkan hati Chelsea Islan, seolah-olah Bastian tak berhak atas Chelsea. Hingga kita tidak rela jika Raisa telah bertunangan, itu hak individunya. Mau warisan atau bukan, pilihan individu muncul akibat proses kontemplasi panjang. Toh nyatanya Sasuke juga tak mewarisi ambisi madara, atau kebengisan Orochimaru. Bahkan dia menjadi ninja yang melindungi Konoha, bersama Naruto menciptakan kedamaian. 

Masih saja ribut, memperdebatkan keyakinan seseorang. Surga dan Neraka, itu hak Tuhan. Semua agama tidak sama, namun punya ritual unik tersendiri. Tidak mungkin juga kita memaksa seorang Hitler atau Stalin mengakui superioritas masing-masing, atau memaksa Fahri Hamzah menjadi seorang marxist. Semua hal tersebut telah melegitimasi agama kita harus berkuasa, kadang bias “secara kekuasaan atau keyakinan”. Sehingga tak jarang klaim duniawi dapat menentukan ukhrowi, lancang sekali.

Itu semua hal yang duniawi, namun sudah biasa terjadi. Tetapi sekarang kita tahu pemirsa, bahwa setelah hal dunia kita akan selalu menghubungkan dengan ilahiah. Persoalan dunia tak lagi menarik, namun ranah ilahi lebih hebring untuk dibahas. Sudah umum jika kita melakukan ghibah pada kehidupan artis, namun tren kekinian ialah lebih asyik mempersoalkan keyakinan seseorang. Misal Sun Go Kong masuk neraka atau surga, apa benar Tong Sam Cong adalah kafir. Tentu kita tidak tahu, bisa jadi suatu saat kedua mahkluk tersebut tobat, mengucapkan syahadat. Merubah namanya menjadi Sulaiman Gofur Kong, dan Taubah Syamsul Cong. Apapun bisa terjadi, selama ada keniscayaan jika tidak ada yang absolut kecuali hukum Tuhan.

Surga dan Neraka adalah hak preogratif Tuhan, namun kini manusia mulai mengintervensi kekuasaanya. Dengan menganggap mereka punya wewenang untuk menghakimi orang lain. Menyakiti mereka yang berbeda keyakinan, seolah-olah tidak ada yang pantas hidup kecuali golongan mereka. Bisa jadi dahulu Muhammad SAW menyuruh para sahabat dan kaum muslimin, mengusir mereka kaum Yahudi Madinah karena berbeda. Menganggap mereka syaiton yang nyata, menjerumuskan muslimin masuk neraka. Toh tidak, kaum Yahudi dibiarkan hidup dengan damai bersama muslimin. Berbeda belum tentu jahat, karena yang sesama muslim-pun bisa jadi lebih jahat.

Misalkan blokade Saudi Cs kepada negara Qatar, padahal sesama muslim toh. Aneh saja, hanya karena berhubungan dengan Iran yang notabene syiah, Qatar dihajar habis-habisan. Mana bulan Ramadhan yang katanya suci, mereka tak mau memaafkan, bahkan membahayakan nyawa sesama muslim. Perdebatan klasik Saudi dan Iran, tak terlepas dari pertarungan Nankatsu dan Perguruan Toho. Bedanya Nankatsu dan Toho tak pernah sampai membunuh, karena mereka memperbutkan trofi. Lah ini Saudi memperebutkan pengaruh, sebagai adidaya. Begitu juga Iran, saling mengklaim paling benar dan kaffah. Manusialah yang jadi korban, agama mulai dipermainkan. Padahal Islam mengajarkan kasih sayang, sebagaimana yang diajarkan Muhammad SAW.

Saya sebenarnya tak berhak berkata demikian, karena siapa saya?, puasa saja masih suka mokel. Tarawih jarang-jarang, jomblo pula. Tapi ketika Pangeran Zuko mulai melunak berkongsi dengan Avatar Eng, untuk melawan kebiadaban Ozai. Mengapa semangat tersebut tak diterapkan, malahan mengklaim paling benar. Padahal kemanusiaan sedang kritis, ketika Umbrella Corp mulai mengkapitalisasi semua sektor. Menciptakan zombie-zombie penghisap, tak peduli sepupu, pacar atau mantan semua dihisap. Bagaimana Shrek masih dianggap kaum jelata oleh mertuanya, tak mengikhlaskan Fiona kedalam pelukan Shrek. Karena menganggap Prince Charming lebih berhak, menjadi bukti kesenjangan menciptakan problem.

Apa guna jungkir balik sampai jidat hitam, jika Bang Jarwo dan Sopo masih dipandang sebelah mata. Dianggap sampah tak berguna, selalu ditindas oleh Pak Haji dan Adit. Melupakan permasalahan yang cukup esensial, mementingkan siapa yang lebih berhak hidup dan masuk surga. Daripada memikirkan nasib kaum-kaum terpinggirkan, yang gunung dan hutannya dibabat habis, tanahnya dirampas, hingga berpotensi menjadi lumpen-proletariat. Lalu nasib buruh macam Spongebob dan Squidward yang selalu dihisap oleh Tuan Krab, kerja melebihi batas bahkan tidak dapat hak-haknya. 

Kesejahteraan masih timpang, menganggap mereka yang tak bekerja adalah takdir. Tidak memikirkan bagaimana proses Patrick bisa jadi pengangguran, atau mengapa Bang Jarwo bisa jadi preman. Minimal kita belajar jadi Upin dan Ipin meskipun terbatas, tetapi masih mau menolong orang. Jangan jadi Mail yang mementingkan harta, yang semua dapat di komodifikasi demi nilai lebih. Merasa yang paling hebat seperti Ichsan, atau jumawa tidak pernah salah kayak Pak Haji.

Alangkah baiknya semua berimbang, ukhrowi iya, duniawi juga iya. Sehingga perdebatan yang cukup menguras tenaga itu bisa dikanalisasikan ke langkah konkrit pembebasan. Layaknya Kotaro Minami sang Kamen Rider, yang setia membela yang lemah dari serangan Monster jahat. Membantu sesama yang membutuhkan, layaknya Doraemon yang senantiasa membantu Nobita dan kawan-kawan. Mencoba menjadi lebih baik dengan melihat diri kita sendiri, sambil berjalan mengamalkan apa yang kita bisa. Percuma saja memperdebatkan Gaj Ahmada Islam atau Hindu, Bumi datar atau Bulat. Jika masih ada saudara kita yang tertindas, seperti para Jomblo yang selalu didzalimi dengan pertanyaan “kapan nikah ?”.

​Lebaran Dalam Budaya “Hegemoni Orba”

Akhirnya sampai pada titik yang cukup menggembirakan, beberapa hari yang akan datang sedikit problem akan terselesaikan. Lebaran, secara mainstream akan dimaknai sebagai judgement day. Entah dari sejak kapan, hari lahiriah dengan trademark maaf-maafan, dijadikan ajang pembantaian. Bukan soal kekerasan fisik, namun lebih ke verbal. Dimana akan muncul pertanyaan-pertanyaan menohok.

Pertanyaan mendasar, apakah budaya penghakiman sepihak ini bersifat universal atau terbatas pada kelompok ekonomi menengah saja. Pasalnya memang di kelompok ekonomi lemah, pertanyaan seputar  lebaran hanya mencakup wilayah ekonomi saja. Semisal mereka yang merantau, pasti akan mengajak keluarganya yang dirasa prospek. Mungkin juga curhat resolusi ke depan mau ngapain, lebih ke soal ekonomi dan mungkin saya bisa salah.

Berbeda dengan mereka yang berasal dari keluarga ekonomi menengah, lebaran dimaknai sebagai ajang berkumpulnya keluarga. Sekaligus menghakimi sanak saudara, entah ini budaya lama atau mungkin secara alamiah sudah melekat. Pertanyaan seputar ekonomi jelas tidak bisa dilepaskan. Semisal nanti mau kerja dimana ?, kerjaanmu sekarang dimana ?, gaji berapa ?, kok disitu, kayak si Z dong hebat!. Selalu membanding-bandingkan antar individu, siapa yang lebih unggul.

Pertanyaan klasik selanjutnya, seputar sekolah dan kuliah. Ketika yang lulus smp, sma, akan kena damprat sekolah dimana nanti ?, kuliah dimana nanti ?, bahkan sampai membandingkan dengan yang lainnya. Sekolah di X kayak si Z saja, kuliah di W kayak si Z, masak tidak bisa. Mengunggulkan yang lebih bonafit, sampai membuat tekanan mental bagi si individu. Terkadang malah harus rela melepaskan cita-citanya, karena intervensi simple yang menohok.

Pasca itu, kita semua juga dihakimi. Kapan lulus, mau kemana dan ngapain. Terlalu kepo dan deterministik. Kapan nikah, sama siapa, dari keluarga mana. Merupakan pertanyaan khas unik kelas ekonomi menengah. Anehnya, sampai ranah pribadi diurusin, dibully, dihina dan tak jarang yang frustrasi. Namun ada juga yang sekedar gurauan dan motivasional. Memang unik, sekaligus mengaburkan esensi hari lahiriah, alias kembali ke fitrah. Terjebak dalam ghuluw menuju riya’, seperti parade pamer pencapaian. 

Tentunya tidak semua seperti itu, hanya saja beberapa melakukan budaya tersebut, menjadi sebuah el folklore. Pertarungan antara keluarga, pihak-pihak yang ingin dipandang ingin berhasil. Rata-rata memang dari kelas ekonomi menengah, yang memelihara budaya demikian. Sebagai bukti, bagaimana hegemoni budaya kekinian mengintervensi, masih bercorak khas feodal ala-ala pencapaian orba yang kaku. Masih ingat tolok ukur orba, kerja PNS, Dokter, Militer dan Perusahaan ekstraktif dan manufaktur level nasional. Bahkan dari cita-cita bisa ditebak, sampai pertanyaan lebaran bisa ditebak.

Seperti dalam tulisan Yudhistira dalam anak-anak orde baru dan Indonesia sekarang. Wujud budaya orde baru dapat dilihat dari cita-cita, sebagai pengejahwantahan ideologisasi pembangunan. Anak-anak orde baru secara tidak langsung menggambarkan tujuan pemerintah, dari cita-citanya bahkan arah tujuannya. 

“Pembangunan adalah mantra bagi Orde Baru, sehingga semua kegiatan mesti disesuaikan dengan mantra tersebut. Itulah sebabnya, cita-cita anak-anak Indonesia pada masa Orde Baru terbatas hanya pada tiga profesi tersebut. Pertama, menjadi tentara, terutama Angkatan Darat (AD), karena merekalah yang berhasil menyelamatkan negara ini dari pengaruh komunisme dan menjaga stabilitas keamanan, sehingga negara bisa membangun dan meraih kenikmatan ekonomi. Kedua, menjadi insinyur supaya bisa meneruskan dan meningkatkan pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah. Ketiga, menjadi dokter agar masyarakat Indonesia senantiasa sehat sehingga pembangunan tidak terhambat” (Yudhistira, 2013, artikel anak-anak orba dan indonesia sekarang, paragraf 9).

Bahkan menurur Karl Mannheim, posisi sosial meruoakan proses sejarah, yang dapat membuat masyarakat mempunyai cara pandang dan implementasi dalam tindakan yang khas, sehingga membentuk budaya yang khas (dalam Dhakidae, 1980: 6, dalam Yudhistira 2013). Sudah cukup menjawab sedikit, soal mengapa budaya tersebut langgeng. Karena memang distribusi kesejahteraan tidak merata, tidak adil dan menjadi bukti ketimpangan. Sehingga cukup membedakan budaya lebaran diantara masyarakat, yang masih hirarkis. 

Ramadhan menjadikan kita sebagai manusia yang fitrah, belajar menahan hawa nafsu dan menjadi lebih baik. Namun tidak semua menjadi seperti harapan, masih banyak hal-hal penting yang masih “cacat”. Budaya boros, berlebih-lebihan, bahkan hanya sampai pada hari raya saja. Pasca itu selesai tak ada tindak lanjut. Idul fitri yang seharusnya menjadi ajang rekonsiliasi, malah memunculkan sakit hati. Retakan-retakan baru, sehingga percuma belajar internalisasi diri melalui puasa. Lebaran juga dapat dijadikan indikator sosial ekonomi, bagaimana masih banyaknya ketimpangan sosial diantara kita.

Refrensi

http://etnohistori.org/anak-anak-orde-baru-dan-indonesia-sekarang-esai-oleh-aria-wiratma-yudhistira.html

Plagiasi dan Puasa

Hari-hari bulan puasa begitu menyenangkan, apalagi masih ramai gunjing-gunjing persoalan Dek Afi yang hits gak ketulungan. Apapun itu, saya tetap hormat dan bangga sama Dedek Afi. Kakak ini hanya apalah-apalah, baru mulai ngeblog kisaran SMA kelas 3. Itu semua isinya sampah, curhat duh curhat lagi, ditolak duh ditolak lagi. Ya maklum refrensi kakak dulu hanya Erni Arrow “Bukit Puncak Kemesraan”, kalau endak ya Koo Ping Hoo. Jadi tak secetar dek Afi, yang mampu memparafrase Freud, dll. Saya cuma apa dek, anak abg yang suka main PS, kalau enggak ya mabuk-mabukan sambil ndangdutan.

Plagiasi ya, Dek Afi yang saya cintai. Persoalan plagiasi memang begitu rumit dan pelik. Jangankan adek yang bilang bahwa plagiasi itu sah saja dilakukan anak SD ketika mencontek temannya, sebagai bentuk tindakan awam. Namun perlu ditekankan, ketika SD nyontek berbeda dengan plagiasi, karena nyontek terkadang anaknya ikhlas. Tapi jika ditinjau dari sisi njiplak menjiplak tetap saja itu plagiasi. Tentu saya tak akan menyalahkan adek disini, karena persoalan plagiasi bukan suatu hal terbentuk dengan sendirinya.

Kakak juga pernah melakukan plagiasi versi salah satu dosen, bahkan dikatain saya mencomot dari seseorang yang dari UI (Universitas Indonesia) ketika mata kuliah kuantitatif. Opomaneh kenal saja enggak, eh main tuduh itu orang. Tapi kakak terima dengan lapang dada, sembari ingin sekali menghajar itu dosen dalam sebuah forum perdebatan terbuka. Namun kakak sadar, memang harus instropeksi diri. Tetapi ada yang janggal, pada intinya kakak tidak pernah mencomot dari itu orang UI. Kakak hanya copas dari jurnal, ke translator lalu diutak-atik dikit, ya ndilalah sama struktur katanya, tapi maklumlah kalau persoalan teori memang begitu rawan sama. Kok jancuknya di salah satu paragraf kakak dicap plagiat, la ini endak ada kaitan dengan teori yang rawan sama, ini bagian opini alias mengarang bebas namun tetap cerdas. Jujur sejujur jujurnya hingga dapet pacar, kakak ngetik sendiri, dari otak sendiri, tapi jika di copas ke google, banyak persamaan dengan beberapa warta, berita bahkan buku google. Nah apakah itu plagiat? hanya kesamaan kata, struktur tanpa disengaja. Bahkan tidak hanya satu, banyak yang seperti itu. 

Ini persoalan yang bias dan multitafsir, terkadang subjektif. Secara kelekatan kata yang kita simpan dalam memori, diolah dalam kognitif kita, menghasilkan suatu hasil dari pembacaan tersebut. Tak jarang cerpenis, novelis bahkan akademisi yang secara tidak langsung, hanya meneruskan template atau gaya bahasa dari orang yang digandrungi. Namun itu bukanlah pembenaran, hanya ada beberapa kasus. Tidak bisa digeneralisasi, karena ini persoalan yang dapat memicu kontestasi.

Persoalan plagiarisme menjadi momok menakutkan, Kakak selalu berhati-hati dalam menulis, terutama skripsi. Namun kekhawatiran dianggap plagiasi tetap ada walaupun telah teliti, karena ada standart penulisan ilmiah yang begitu ketat, yang sejujurnya Kakak kurang sukai. Bagi Kakak, menulis adalah kemampuan non-verbal seseorang, yang penting jelas dan lugas, serta menghargai tulisan orang lain, dan wajib menyertakan sumber jika mencomot dari orang lain. Karena persoalan plagiasi dalam konteks kalimat dengan seni rupa, mempunyai kompleksitas sendiri-sendiri. Hal ini menjadi suatu hal yang diskursif, jika kaitannya dengan eksistensi dan tekanan produktivitas.

Sekali lagi, saya menolak anggapan bahwa plagiasi boleh untuk kepentingan bersama. Karena tetap harus mencantumkan si pembuat, sebagai bentuk penghormatan. Kalau toh dia tidak mau dan meminta royalti persoalan hak cipta, maka kita banned bareng-bareng. Dia imbisil bahkan hedonis, menganggap sebuah pengetahuan itu permata. Jika memang begitu, mending penulis, peneliti yang demikian menjadi penambang saja, biar enak nggebuknya ramai-ramai. 

Persoalan Dek Afi, saya dan kawan lainnya, mungkin ada dari perkara individu yang cenderung pragmatis. Namun semua itu tidak berdiri sendiri, ada relasi-relasi terkait. Terutama kuatnya hegemoni kultural, dalam kaitan mempertahankan status quo. Salah satu praktik nyatanya ialah sistem pendidikan, yang hanya melihat suatu hal dalam angka, membodohkan mereka yang tak mampu membuat. Benar-benar tidak memanusiakan manusia, tidak mendidik dalam cipta, rasa dan karsa kata Ki Hadjar Dewantara. Sehingga memicu sebuah tindakan-tindakan menghalalkan segala cara agar mendapatkan angka. Tidak lagi melihat dalam proses, namun lebih ke hasil. Lalu ramai-ramai menyalahkan si plagiasi, hanya karena ingin nilai bagus. Padahal dia buntu secara topik, tak ada usaha dari pendidik untuk “ngemong”. Minimal membangkitkan minat baca, minat tulis, atau kerennya literasi.

Sistem memang demikian memuakkan, pendidikan berorientasi pada persoalan jualan memang menjadi sampah. Sekolah diseragamkan, disertifikasikan, namun melupakan esensi dari pendidikan, kalau tulis Pak Roem dalam Sekolah itu Candu, menurut yang Kakak pahami. Belum lagi persoalan akses literasi ke orang miskin, semakin susah karena mahalnya buku dan susahnya perpustakaan gratis. Monopoli korporat penerbitan semisal gramedia cukup berimbas pada persoalan hak cipta, dimana sebenarnya hak cipta hanya dimonopoli penerbit. Jadi tidak salah banyaknya buku bajakan, ditengah dilema, memang menghadirkan surga bagi mereka yang tak mampu mengkases bacaan. 

Pernah suatu ketika saya baca tulisan kawan saya, dia mengatakan jika Pak George Tjunus Aditjondro tak masalah karyanya dibajak. Karena persoalan gurita korporasi penerbitan memang memuakkan, penulis dibayar murah sementara akumulasi kapital dari jualan buku besar sekali. Saya ingat Max Amman manajer keuangan Hitler, yang menjual Mein Kampf dengan harga mahal, tapi kualitas buruk. Tujuannya ya untuk menyumbang keuanggan untuk Hitler demi ambisinya menguasai partai. Pak George bilang jika menjadi seorang penulis memang harus siap miskin, itu resikonya.

Persoalan plagiasi memang rumit, namun paling tidak sertakan sumbernya, untuk menghormati si pengarang. Selain itu untuk Dek Afi, Kakak paham kok, memang susah untuk mengakui. Seperti kita tidak puasa, karena takut tekanan lingkungan sosial, maka kita terpaksa berbohong dengan mengaku puasa agar tidak dihakimi sesat. Ya namun manusia harus tetaplah berupaya belajar, paling tidak ada akademisi yang benar-benar turun ke rakyat kecil dan berkontribusi, tak sebatas Indonesia Mengajar. 

Memaknai Ramadhan Melihat Dari Sisi Lain

Ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Menurut cerita turun temurun dari guru ngajiku, pada bulan ini akan dilipatgandakan segala amalan dan pengampunan bagi dosa-dosa masa lalu. Sehingga terasa sangat istimewa sekali jika mampu bertemu dengan bulan ramadhan. 

Ketika aku menulis ini, kata-katanya sabtu sudah masuk bulan ramadhan. Sungguh istimewa sekali, karena aku masih diberikan umur untuk berjumpa lagi. Seperti kawanku sebut dia Kak Bed yang sangat antusias menanti bulan ini, ternyata ada cinta yang tertunda, dia berharap bulan ramadhan benar-benar berkah untuk kisah cintanya. Berbeda dengan Bung Bin, seperti biasa dan berapi-api, bulan ramadhan ini sangat istimewa, karena bertepatan dengan bulan Juni yang erat kaitannya dengan Soekarno. Itulah ragam keunikan ramadhan, yang punya pemaknaan masing-masing disetiap individunya.

Ramadhan sebenarnya sangat istimewa, selalu membawa berkah bagi semua orang. Entah itu secara metafisik maupun rill, baik yang murni menjadi kapitalis pahala ataupun tunai. Semua terbuka lebar di bulan suci ini, ibarat sebuah dunia simulasi, yang memang menjadi representasi pasar baru bagi pemburu rente. Esensi ramadhan adalah  sebuah liturgi suci, ritual transendensi antara manusia dengan sang pencipta. Penuh nilai-nilai kebajikan, melatih diri menjauh dari kemungkaran. Berkahnya bukan semata pahala, namun lebih ke perubahan kualitatif terkait peningkatan keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana jika kita baca dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang mewajibkan bagi setiap kaum muslimin untuk berpuasa, dengan tujuan mempertebal ketakwaan.

Ketakwaan masih dimaknai secara parsial, bukan memperbaiki diri melalui sebuah internalisasi, namun masih terjebak pada hal-hal yang reaksioner. Semacam masih ada persoalan terkait intoleransi, semacam tindak diskriminasi sudah tidak sesuai konteks dengan ibadahnya. Secara paragdimatik puasa ialah menahan diri dari hawa nafsu, tidak sekedar makan dan minum saja. Ketika masih ada ormas-ormas ataupun umat islam yang marah-marah, akibat Mbok Darmi masih jualan pecel, maka dipertanyakan keimanannya. Secara logika, apakah keimanannya hanya sebatas nasi pecel?, terus kenapa musti marah jika bisa bicara baik-baik?, bukankah puasa menjaga diri dari godaan?. Lantas jika tidak ada godaan, apakah akan ada peningkatan kualitas diri, menyatu dengan yang maha kuasa Allah, bullshit. Korelasional dengan konteks puasa yang beneran ataupun hanya pencitraan. Hakikatnya puasa tidak hanya soal makan dan minum, tapi juga menjaga diri agar tidak marah-marah. Inallaha Ma’ashobirin.

Begitu juga dengan persoalan menahan hawa nafsu, apakah puasa mengajarkan kita untuk berboros-borosan?.  Fenomena berlebih-lebihan, atau istilah santrinya ghuluw (melampaui batas) memang menjadi tren kekinian.  Boros atau dalam konteks ini berlebihan dalam berbelanja, ataupun dalam kaitannya dengan ibadah puasa. Sebagaimana dalam surat Al-Furqon ayat 67, yang berisi kurang lebih perintah Allah terkait perilaku sederhana. Agar manusia senantiasa bijak dalam membelanjakan sesuatu, tidak berlebih-lebihan. Begitu juga jika kita mencermati  Al-a’raf ayat 31, yang mempunyai makna bahwa manusia tidak boleh berlebihan dalam sesuatu, dalam makan, berpakaian atau hal apapun. Secara pemahaman awam, bahwa Islam sesungguhnya mengajarkan agar senantiasa berlaku adil, tidak melakukan hal yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Senantiasa berlaku sesuai dengan kebutuhan, dalam ini korelasional dengan konteks nilai guna. 

Realitas yang kita ketahui bersama, bahwasanya ketika ramadhan tiba merupakan kesempatan bagi para pemburu rente, untuk benar-benar menghisap pundi-pundi uang kaum muslimin. Lantas siapa yang salah?, pasalnya pasar itu tercipta karena suatu kondisi, dibentuk lewat penetrasi budaya, menjalar menjadi sebuah struktur yang secara historis melekat. Maka tidak heran, jika ketimpangan ekonomi turut mempengaruhi kondisi ini. Golongan yang mampu terbiasa praktis, berhura-hura, menciptakan segmen baru, peluang bisnis baru. Dimana mereka yang melihat kesempatan ini akan memanfaatkan kondisi demikian, dengan tujuan pengakumulasian modal. Kondisi tersebut berulang-ulang, terus direproduksi hingga menjalar ke beberapa golongan secara tidak sadar. 

Hal diatas sama ketika kita bicara nyinyir, kenapa buruh beli ninja?, ya karena mereka terpengaruh kelas pekerja mapan. Hasrat manusia menurut Freud dalam karyanya negation (1925) ada yang namanya biological needs, terdapat dua insting yaitu hidup dan mati. Salah satu insting manusia terkait hidup adalah pleasure atau bersenang-senang. Jadi seorang buruh membeli suatu barang karena memang sudah menjadi dorongan, mereka bekerja keras dan harus dapat hasil. Ninja merupakan salah satu manifestasi kesenangan, hasrat untuk terus hidup. 

Pasar dicipta karena kesempatan, kondisi sosial yang sengaja diciptakan. Menurut Baudrillard dalam consumer society (1970) konsumsi telah menjadi hal yang mendasar, tercipta oleh suatu kondisi sosial. Ihwal soal konsumsi berawal dari konstruksi suatu nilai. Perubahan bentuk nilai dari sebuah kegunaan, menjadi sebuah simbol kelas yang fungsinya menjadi nilai tukar. Sebuah tujuan untuk mencapai sebuah eskalasi kelas, yang nantinya memperteguh prestis untuk agar diidentifikasikan sebagai kelas tertentu. 

Ramadhan seharusnya dimaknai sebagai ibadah yang bersifat duniawai maupun ukhrawi, memupuk rasa takwa kepada pencipta sekaligus memperbaiki tingkah laku di dunia. Tidak sekedar hidup dalam mengejar surga, namun juga peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Belajar memahami dinamika sosial, bahwa ada gerak materi yang disebut penindasan manusia dan alam. Pergeseran nilai atas makna ramadhan yang lebih hedonis, membuktikan terdapat pergeseran makna yang sangat serius. 

Menurunnya kepekaan, hingga perilaku apolitis, pragmatis dan diskriminatif menjadikan perlu meredefinisi ulang, terkait mengapa kita harus berpuasa?. Terlebih jika kita masih terjebak dalam persoalan konsumerisme, tindak kekerasan, pembiaran atas penindasan kaum miskin, buruh dan petani dan perusakan alam sebagai kesatuan ekologi. Maka perlu berkaca dan merefleksikan kondisi tersebut, sambil bertanya “Ya Allah, apakah ibadah ini memang benar-benar telah sesuai anjuranMu, ataupun melenceng dari perintaMu”. Terlepas dari semua itu, mari kita meluruskan tujuan Ramadhan kita, sebatas ketakutan masuk neraka, tidak dapat pahala, takut dicap kafir atau periodik (hanya ikut tren), atau kembali pada Allah dengan memahami perintahnya secara utuh. Bahwasanya Allah sangat membenci penindasan atas ciptaanNya, baik manusia ataupun alam.

#Ramadhan2K17: Kak Bed dan Syech Rouf

Pada suatu waktu ada seorang pemuda alim namanya Kang Rouf, cukup terkenal dengan nama Syech. Mungkin karena tingkat kealimannya sudah tingkat Harto, tertinggi dan tak bisa digoyah. Kecuali dengan aksi massa dan itupun butuh waktu satu dekade lamanya.

Singkat cerita Rouf bertemu dengan seorang pemuda begundal, entah darimana asalnya, tidak jelas. Rouf yang alim tidak suka dengan kelakuan pemuda tersebut, masak puasa-puasa begini dia dengan santainya merokok, kebal-kebul.

“Mas sampeyan enggak puasa”, cerca Rouf.

Pemuda tersebut hanya mendelik melihat, sesekali menghisap rokoknya. Parahnya asap rokoknya disemburkan ke muka Rouf. Berhubung tingkat kesabaran Rouf setingkat Syech, maka tidak marahlah dia.

Rouf hanya mengelus dada, dengan mengucapkan “Astagfirulloh”.

” Mas mbok ya jangan diarahkan ke mukaku toh ya, kan saya bicara baik-baik” kata Rouf mencoba mengingatkan pemuda suram tersebut.

Pemuda tersebut masih sama kelakuannya, bahkan diulangi lagi. Matanya masih mendelik, melihat Rouf. Tampak raut mukanya tidak bersahabat, terlihat sangat marah sekali. Rouf pemuda alim, kembali berujar dengan petuah pamungkasnya.

“Mas sebenarnya tak masalah jikalau sampeyan mau merokok, itu sah-sah saja, tapi mbok ya hormati yang lagi berpuasa”.

Namun lagi-lagi pemuda itu masih mendelik, bahkan berdiri menantang Rouf.

” Tenang mas, tenang, saya hanya memberi tahu, toh kalau tidak dipakai ya enggak apa-apa” Rouf was-was, karena jika dia marah dan sampai terpancing, maka sia-sialah puasanya.

Pemuda itu kembali duduk, rokoknya telah habis, namun ia menyalakan lagi. Rouf semakin bingung, ini orang pasti sedang menguji kealimannya. Namun Rouf tetap sabar, selalu beristigfar agar tak marah menghadapi manusia mbalelo macam pemuda tersebut.

Tampak dari kejauhan ada seseorang yang melambaikan tangannya, “hoi Syech, Syech Rouf”, panggil orang tersebut. ” Yoo ono opo Bed”, jawab Rouf pada orang itu.

Perlahan orang tersebut yang ternyata lelaki, cukup familiar, idola kita semua, Kak Bed itulah namanya.

“Syech sampeyan lapo ?”, Kak Bed penasaran dengan apa yang dilakukan Rouf.

“Ini lo pemuda ini tak kasih tahu, jangan rokokan pas bulan puasa”, jelas Rouf.

“Loh emange kenapa?”, tanya Kak Bed keheranan. ”

Ya gini lo Kak Bed, kalau dia rokokan itu akan menganggu yang lainnya”, Rouf mencoba klarifikasi.

“Ya tidak masalah lo Syech, masak kita puasa kalah hanya karena rokok”, terang Kak Bed. Rouf menjawab lagi sesuai idealisme dia ” ya bukan begitu gak etis saja, gak punya rasa hormat”.

Kak Bed tampak gemes sama Rouf, “Gini lo Syech, puasa itu menahan hawa nafsu tak sekedar makan dan minum. Lantas jika kita puasa masih memikirkan hal dasar, mempertanyakan sesuatu yang katanya menggoda. Berarti ada yang salah dengan niat sampeyan puasa. Bukankah puasa itu melatih diri, bukan membenarkan diri untuk menjustifikasi sesuatu”, ceramah Kak Bed yang dahsaytullah.

“Memang benar Kak Bed, tapi saya tidak suka saja”, Rouf masih tidak terima dengan kata-kata Kak Bed yang liberal, jelas bertentangan dengan idealismenya yang kaffah.

“Kan yang penting sampeyan wes mengingatkan, itu sudah bagus tidak usah memaksa”, terang Kak Bed. ” Bukane begitu Kak Bed, tapi dia masih muda, tak seharusnya begitu”, pembenaran Rouf, yang merasa sudah tepat yang dilakukannya.

“Duh Syech-Syech, apa kamu sudah tanya dia itu kenapa?, minimal ke orang sekitar dia itu siapa”, tanya Kak Bed. Rouf hanya garuk-garuk kepala, seraya berkata ” Dia pemuda dan Islam”.

Kak Bed ketawa keras sekali, Rouf semakin naik pitam, “Apak maksudmu Bed”. Tiba-tiba Kak Bed menarik tangan Rouf, lalu disuruh nanya ke Ibu-ibu yang barusan pulang Sholat Dzuhur.

“Assalamualaikum Bu Siti” sapa Kak Bed. “Waallaikumsalam Bed” Jawab Bu Siti. Bu siti penuh keheranan bertanya kepada Kak Bed, “Ada apa Bed, kok aneh gitu”.

“Jadi begini Bu, itu si Salim sejak kapan pulang dari RSJ”, tanya Kak Bed.

“Baru kemarin Bed, entah sembuh atau tidak, tapi cukup baik lah, palingan yo rokoknya itu agak resek”, jawab Bu Siti.

“Oh yasudah Bu, makasih”, Kak Bed tersenyum ke Bu Siti.

“Iya tidak betul apa-apa Bed, Ibu pulang dulu ya, Wassalamualaikum”, pamit Bu Siti kepada Kak Bed dan Rouf.

Ada yang berubah dari raut muka Rouf, tiba-tiba merah padam. ” Kenopo kamu Syech, marah ta mbek aku”, Kak Bed konfron ke Rouf. Sementara itu Rouf masih mecucu, “Posoku ngene iki batal enggak Kak Bed”, tanya Rouf.

“Ya coba sampeyan tanya ke pemuda itu saja”, tawa Kak Bed Pecah. “Yaudah kalau gitu, aku pamit dulu”, Rouf pamitan ke Kak Bed karena menahan malu atas ujian puasa hari ini.

“Loh lagi ketemu kok pulang Syech, iki lo Pemudae jaluk disadarno”, sindir Kak Bed. “Asssss saaa Asssssuuu kowe Bed” Rouf memaki Kak Bed. Namun karena dasarnya sabar, dia malah menanyai Rouf dengan santun, “Lah mau kemana toh Syech?”.

Sambil berjalan menuju motor, Rouf berkata ” Tuku es Tebu karo rokokan”.

Kak Bed bingung masak seorang Syech mokel. “Asu wes magrib, jo aneh-aneh kowe Bed”, sambil nyetater motornya.

Kak Bed hanya bisa meringis, garuk-garuk kepala, “perasaan ini masih dzuhur deh, hanya langit sedang mendung saja”. Sementara Kak Bed berpikir, Rouf ngeloyor tak karuan rimbanya. Dan Kak Bed masih berpikir.

Forget About This, Such as Sucking Inception

10985913_1028576333823986_2122488172089928196_n

Pohon itu mulai menghijau, menandakan musim semi telah menghampiri. Selepas musim dingin yang begitu menyita waktu, aku mulai terbiasa hidup dalam hal-hal yang susah. Meskipun kadang ada keinginan untuk menyerah, namun itu tidak ada gunanya. Karena menyerah sama saja dengan kalah, dinginnya angin tak akan meruntuhkan semangatku untuk tetap bertahan hidup di dunia yang bajingan ini. Terlunta-lunta tanpa sebuah kepastian, kehilangan harapan, hingga berpikir tuhan tidak adil. Namun justru ini realitas yang harus dihadapi, dilawan dan dihancurkan.

Hidup di negeri orang memang kejam, apalagi jatuh cinta dengan orang yang berbeda keyakinan. Aku yakin sementara dia ogah-ogahan menerima keyakinanku. Ya begitulah sebuah dinamika romantisme asmara, penuh ketidakpastian dan tidak bisa ditebak akhirnya.

Suasana Berlin memang tak seindah dalam benak, hidup di negara orang lain, terekam bayangan menyenangkan. Bagimana ketertiban, hidup jauh dari kejahatan, namun tetap saja ada yang aneh. Ketika putus asa karena asmara, selalu saja merindukan rumah. Tempat ternyaman untuk menenangkan diri, jauh dari tekanan apapun, apalagi ada Ibu yang selalu menyemangati. Rindu Indonesia, Tuban khususnya, ingin segera pulang dan menenangkan diri sejenak.

“Ral, aku tahu kamu sudah mempunyai kekasih hati. Tapi apakah tidak ada jalan lain, aku sungguh mencintaimu” kataku pada tembok-tembok sepanjang jalan. Tak peduli dengan anggapan orang lain, namun inilah kenyataanya, aku sangat terpukul dengan apa yang barusan terjadi. Bunga yang baru ditanam, seketika layu dan tak mau bersemi lagi.

“Tapi apakah kamu akan memberikanku kesempatan untuk membuktikan, jikalau aku memang mencintaimu” memandang pada sebatang pohon tua dipinggir jalan, sendirian tak ada teman hidup. Begitu jengkelnya ingin sekali kutumbangkan pohon itu, atau biarkan saja berdiri sampai ajal menjemputnya. Lapuk, roboh lalu menyatu dengan tanah.

Setelah melewati jalanan malam yang cukup dingin, aku berdiri di depan losmen tempat Ral tinggal. Dia merupakan gadis berparas manis, santun dan juga cerdas. Siapa yang tidak tertarik dengan dia, apalagi sesama pribumi, berasal dari satu kawasan yang sama. Jelas sudah, gejolak hati timbul ingin mencoba mengarungi hidup bersamanya. Membayangkan kenyataan indah, suatu saat bisa berjalan bersama, bergandengan tangan hingga menuju pelaminan.

Harapan tetaplah harapan, namun kenyataan berkata lain. Setelah cukup mengenal, pendekatan yang agresif nan singkat ku lakukan. Tampak ada harapan, ketika sikap yang ditujukan mengisyaratkan sesuatu yang berbeda. Sorot matanya tajam, senyumnya ikhlas, memberikan secercah harapan untuk membuka hati.

Pandanganku  tertuju pada sebuah jendela kamar, terlihat samar-samar.

“kenapa aku bisa disini, apakah ini sebuah kegilaan” tanyaku pada langit yang sedang ceria, berbinar-binar penuh cahaya.

Rupanya perintah otakku berkehendak lain,  semula ingin pulang, tapi malah berhenti dirumah Ral. Apakah ada yang salah denganku, kenapa masih berharap, padahal aku sendiri sangat tidak yakin dengan apa yang hedak aku lakukan.

Masih di losmen yang sama, di  jendela kamar yang sama, tampak ada seseorang. Kenapa fisiknya berbeda dengan Ral, siapakah dia?. Entah aku hanya berharap itu hanyalah ilusi, bentuk manifestasi ketakutan. Kehilangan ketika belum sempat memiliki, hingga traumatik dalam mengungkapkan perasaan, menjadi momok yang menakutkan. Menganggu psikisku, mendadak menjadi seseorang yang delusional.

Jendela terbuka lebar, bukan Ral tapi seseorang pria. Sial sekali, kenapa harus menemui kebuntuan yang sama, terulang hingga beberapa kali. Setiap tahun polanya sama, implikasi hukuman Tuhan kah. Entah aku tak mampu berkata-kata, aku hanya berharap dia keluar.

“Yu, Yu, kamu ngapain disitu” teriak seseorang dari sebelah kiri.

“Bukankah kamar Ral ada didepanku, kenapa suaranya disebelah kiriku” penuh keheranan, membingungkan.

“Hoi-hoi, kamu salah kamar” sambil cengengesan meledekku.

Tampak manis sekali senyumnya, menghilangkan sedikit keraguan. Menghangatkan udara Berlin yang dingin, walaupun aku hanya memaki sweeter tipis yang kubeli murah di ebay kemarin.

“Oh iya, kirain kamu di sebelah” jawabku, sembari mencoba memberikan senyum terbaik.

“Ah kamu Yu”

“Hmmmm, bodoh sekali” sambil memegang kepalaku, sok pusing dan lupa. Padahal emang kenyataanya mencoba melupan, buka ngelupa.

“Ada apa kesini,?” tanya Ral dengan serius

“Anu itu ehmmm” terdiam, keringat bercucuran, gugup, campur aduk jadi satu.

“Ah ada yang penting kah?”

“Ehm ada sih?”

“Apa apa?”

“Ral, aku jatuh cinta sama kamu, selama ini aku mengerti jika kamu memang manis. Maaf Is too soon, to say if have feeling against you. Seharusnya ini belum waktunya, tak semestinya terjadi. Memalukan, barusan juga bertemu, namun langsung mengungkapkan perasaan. Menyedihkan, terlalu cepat, dan tak esensialis.

Ral terdiam, ia bingung, dan hanya memandangiku, seolah-olah aku ini patut dikasihani.

“Jujurlah Ral”

“Jujur bagimana?”

“Ral, keberadaanmu sudah cukup memberikan  kebahagiaan, aku  akan berusaha mempertahankanmu, menunggumu, menantimu” kataku di dalam hati. Tak beranilah bilang macam  itu, terus terang akan mempermalukan diriku sendiri. Harga diri.

“Kenapa Yu? Mau bilang apa? Suka sama aku??”

“Kenapa emang”

“Jangan sedih”

“Lah kenapa harus sedih”

“Diterima dengan lapang dada Yu”

“Apanya Ral”

“Ehmm kamu nanti sakit hati”

“Oh jadi sama dia?”

“Menurutmu, gak usah nangis”

“Yee siapa yang nangis, by the way congratulations

“Makasih ya”

“Segera diresmikan, untuk mengikatnya”

“Nanti jika sudah menyelesaikan pekerjaan terakhir, biar selesai dahulu”

“Oh”

Aku mulai gontai perlahan meninggalkan rumah Ral, dijalan terdapat kursi panjang romantis, indah bermandikan cahaya lampu. Duduk selonjoran, cukup capek, pikiran dan hati. Semua terasa cepat, dan tidak sesuai mimpi. Realitas selalu bertabrakan dengan sesuatu imaterial, sehingga terdapat kekecewaan ketika tak mendapatkan yang diinginkan. Sudahlah, lewati saja dengan bahagia, terus melangkah ke depan menyonsong matahari. Agar senantiasa diselamatkan dari kesesatan yang gelap, membungkan, mematikan. Semua tampak tak biasa dan aneh. Menyukai mendistraksi, mendistorsi, menciptakan diskrepansi, yang semua mempunyai tujuan dekonstruksi makna.

Bahagia bukan melihatmu bersama dengan dia, namun yang paling mulia ialah dapat berpikir objektif jika kamu bukan bagian dari tubuhku, atau memang masih misteri. Bajingan semua hanya mimpi, ternyata rumit, jika kesadaran mulai tertutupi naluriah memiliki.

 

“You know you’re in love when you can’t fall asleep because reality is finally better than your dreams”. ― Dr. Seuss

 

 

​Refleksi Perjalanan Tumpang Pitu: Hari Pertama.

#SelamatDatangdiTumpangPitu

Perjalanan yang melelahkan, dari Surabaya menuju Banyuwangi. Untuk berkunjung ke salah satu kawan pejuang agraria, terkait perlawanan terhadap tambang. Berangkat pukul 12 siang, sampai Banyuwangi jam 9 malam. Kami berlima, dua dari Jakarta dan kami dari Surabaya. Sepanjang perjalanan cukup menyenangkan, terutama full musik lawas. Bahkan saya belum lahir, sudah ada lagu tersebut. Diantara yang lain, saya yang paling muda.

Sesampainya di Banyuwangi, kami singgah di alun-alun yang ternyata taman. Kami salah sangka, karena memang ramai sekali. Disana kami makan dan ngobrol, sembari menunggu kawan jejaring. Menariknya makanannya biasa saja, dan tidak mengenyangkan. Karena memang di tempat umum harus selektif memilih makanan. Jadi ya tidak ada menarik dari makanan.

Setelah beberapa waktu menunggu, datanglah kawan muda pemberani yang turut mengawal Tumpang Pitu. Disana kita bercerita cukup panjang, namun karena privasi kami pindah ke kawan lainnya. Setelah sampai, kami beramah tamah dan melanjutkan cerita. Ada yang menarik terkait perjuangan warga, bagaimana pola persatuan dan pola juangnya. Seperti yang sudah-sudah, ternyata perjuangan yang cukup masif menyisakan polemik. Saya menemukan beberapa hal, yang mirip dengan pola-pola kasus agraria ataupun ekologi di Jawa Timur. Patronase, oportunisme, dan isu-isu musuh negara masih dominan. Namun tidak akan saya ceritakan panjang lebar disini, karena masih proses pendalaman.

#SedikitOpiniPergerakan

Sama seperti di Tuban, disini memiliki alur yang sama. Polarisasi serta aktor-aktor terkait. Terutama orang-orang “kementhus” yang tak mau menyatu dalam perjuangan. Atau orang yang memanfaatkan hal demikian untuk eksistensi. Yang nantinya menjadi stigma serta legitimasi untuk menyerang pihak yang tulus mengadvokasi. Seperti kisah seorang pahlawan yang menyatakan menyerah, dan mengaku disuruh para kelompok yang peduli. Tetapi nyatanya tidak, hanya menggunakan keputusan sepihak. Parahnya atas nama rakyat namun hanya mengibuli.

Karena juang tak semudah memasak mie instan, atau bilang tolak di facebook. Butuh keseriusan, daya dan usaha. Intinya bersatu, entah apa itu latarbelakangnya.

Parahnya melawan korporasi besar memang menyita perhatian banyak “garong”. Bahkan polanya masih sama kriminalisasi warga pejuang, mulai fitnah antek asing, orang bodoh tak mau maju, dibodohi NGO dll. Hingga menggunakan sentimen PKI, dengan fitnah yang rapi. Dari dahulu gerakan rakyat memang paling mudah di kriminalisasi. Dengan infiltrasi logo komunis, padahal itu hanya masa lalu. Bahkan ketika ditanya dasar teori dan manifesto tidak ada yang paham. Ataupun pihak yang paling gencar menolak komunis, merekapun juga tak paham dan tak mau tahu apa itu marxisme secara utuh dalam konteks ilmu pengetahuan. Semua hanya bersumber pada retorika sejarah Orba yang direproduksi demi hegemoni kultural yang mendarah daging.

Mengaitkan warga dengan isu tersebut, memang menandakan ada relasi-relasi kuat antara korporasi dan beberapa pihak. Warga hanya ingin melindungi hak hidupnya, persetan dengan ideologi. Karena tanpa belajar semangat revolusioner sudah ada, indigenouse revolutionary socialism dalam diri mereka. Karena memang sejak dulu semangat kolektif sudah ada, tinggal bagaimana belajar bersama dan mendorong gerakan.

Aksi paling useless ialah yang terkotak-kotak dan hanya aksi saja. Tidak ada penguatan gerakan, advokasi, hingga persatuan gerakan. Kecenderungan “kementhus” masih tetap ada. Menunjukan literasi memang minim, perlu digiatkan. Lah buat apa aksi tapi tidak ada langkah konkrit, dan persatuan warga. Karena isu perampasan ruang hidup, kuncinya ialah mereka yang tergusur. Serta tugas bagi kita yang tahu dan peduli untuk mendorong persatuan, belajar bersama dan berkoalisi antar elemen untuk menyelamatkan ekologi dari tambang dan industri kotor lainnya. Sembari mendorong para ilmuan kita untuk bersama memikirkan alternatif energi ramah, untuk mendukung kelestarian.

#DefinisiGerakAwal

Oleh karena itu penting mendorong kekuatan alternatif, untuk menyatukan elemen gerakan. Baik gerakan politik dengan massa luas, mulai dari buruh, tani, intelektual, dan segenap rakyat tertindas, membentuk alternatif politik. Demi merebut kontes pengampu kebijakan, agar tidak terjebak dalam lingkaran aktivisme serta dinamika gerakan. Watak pemerintah masih akan sama ketika oligarki tidak berubah dan rakyatnya masih ribut membela perutnya.

Peyorasi destruktif, yang menyebutkan rakyat harus mengikuti pemerintah dzalim adalah kesesatan. Dekandensi gerakan akan semakin nyata jiKa masih dikuasi oligarki, yang hobi mereduksi semangat politik. Hingga menjadi apolitis dan ahistoris.

Semoga Allah selalu melindungi segenap rakyat yang melawan.