​Lebaran Dalam Budaya “Hegemoni Orba”

Akhirnya sampai pada titik yang cukup menggembirakan, beberapa hari yang akan datang sedikit problem akan terselesaikan. Lebaran, secara mainstream akan dimaknai sebagai judgement day. Entah dari sejak kapan, hari lahiriah dengan trademark maaf-maafan, dijadikan ajang pembantaian. Bukan soal kekerasan fisik, namun lebih ke verbal. Dimana akan muncul pertanyaan-pertanyaan menohok.

Pertanyaan mendasar, apakah budaya penghakiman sepihak ini bersifat universal atau terbatas pada kelompok ekonomi menengah saja. Pasalnya memang di kelompok ekonomi lemah, pertanyaan seputar  lebaran hanya mencakup wilayah ekonomi saja. Semisal mereka yang merantau, pasti akan mengajak keluarganya yang dirasa prospek. Mungkin juga curhat resolusi ke depan mau ngapain, lebih ke soal ekonomi dan mungkin saya bisa salah.

Berbeda dengan mereka yang berasal dari keluarga ekonomi menengah, lebaran dimaknai sebagai ajang berkumpulnya keluarga. Sekaligus menghakimi sanak saudara, entah ini budaya lama atau mungkin secara alamiah sudah melekat. Pertanyaan seputar ekonomi jelas tidak bisa dilepaskan. Semisal nanti mau kerja dimana ?, kerjaanmu sekarang dimana ?, gaji berapa ?, kok disitu, kayak si Z dong hebat!. Selalu membanding-bandingkan antar individu, siapa yang lebih unggul.

Pertanyaan klasik selanjutnya, seputar sekolah dan kuliah. Ketika yang lulus smp, sma, akan kena damprat sekolah dimana nanti ?, kuliah dimana nanti ?, bahkan sampai membandingkan dengan yang lainnya. Sekolah di X kayak si Z saja, kuliah di W kayak si Z, masak tidak bisa. Mengunggulkan yang lebih bonafit, sampai membuat tekanan mental bagi si individu. Terkadang malah harus rela melepaskan cita-citanya, karena intervensi simple yang menohok.

Pasca itu, kita semua juga dihakimi. Kapan lulus, mau kemana dan ngapain. Terlalu kepo dan deterministik. Kapan nikah, sama siapa, dari keluarga mana. Merupakan pertanyaan khas unik kelas ekonomi menengah. Anehnya, sampai ranah pribadi diurusin, dibully, dihina dan tak jarang yang frustrasi. Namun ada juga yang sekedar gurauan dan motivasional. Memang unik, sekaligus mengaburkan esensi hari lahiriah, alias kembali ke fitrah. Terjebak dalam ghuluw menuju riya’, seperti parade pamer pencapaian. 

Tentunya tidak semua seperti itu, hanya saja beberapa melakukan budaya tersebut, menjadi sebuah el folklore. Pertarungan antara keluarga, pihak-pihak yang ingin dipandang ingin berhasil. Rata-rata memang dari kelas ekonomi menengah, yang memelihara budaya demikian. Sebagai bukti, bagaimana hegemoni budaya kekinian mengintervensi, masih bercorak khas feodal ala-ala pencapaian orba yang kaku. Masih ingat tolok ukur orba, kerja PNS, Dokter, Militer dan Perusahaan ekstraktif dan manufaktur level nasional. Bahkan dari cita-cita bisa ditebak, sampai pertanyaan lebaran bisa ditebak.

Seperti dalam tulisan Yudhistira dalam anak-anak orde baru dan Indonesia sekarang. Wujud budaya orde baru dapat dilihat dari cita-cita, sebagai pengejahwantahan ideologisasi pembangunan. Anak-anak orde baru secara tidak langsung menggambarkan tujuan pemerintah, dari cita-citanya bahkan arah tujuannya. 

“Pembangunan adalah mantra bagi Orde Baru, sehingga semua kegiatan mesti disesuaikan dengan mantra tersebut. Itulah sebabnya, cita-cita anak-anak Indonesia pada masa Orde Baru terbatas hanya pada tiga profesi tersebut. Pertama, menjadi tentara, terutama Angkatan Darat (AD), karena merekalah yang berhasil menyelamatkan negara ini dari pengaruh komunisme dan menjaga stabilitas keamanan, sehingga negara bisa membangun dan meraih kenikmatan ekonomi. Kedua, menjadi insinyur supaya bisa meneruskan dan meningkatkan pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah. Ketiga, menjadi dokter agar masyarakat Indonesia senantiasa sehat sehingga pembangunan tidak terhambat” (Yudhistira, 2013, artikel anak-anak orba dan indonesia sekarang, paragraf 9).

Bahkan menurur Karl Mannheim, posisi sosial meruoakan proses sejarah, yang dapat membuat masyarakat mempunyai cara pandang dan implementasi dalam tindakan yang khas, sehingga membentuk budaya yang khas (dalam Dhakidae, 1980: 6, dalam Yudhistira 2013). Sudah cukup menjawab sedikit, soal mengapa budaya tersebut langgeng. Karena memang distribusi kesejahteraan tidak merata, tidak adil dan menjadi bukti ketimpangan. Sehingga cukup membedakan budaya lebaran diantara masyarakat, yang masih hirarkis. 

Ramadhan menjadikan kita sebagai manusia yang fitrah, belajar menahan hawa nafsu dan menjadi lebih baik. Namun tidak semua menjadi seperti harapan, masih banyak hal-hal penting yang masih “cacat”. Budaya boros, berlebih-lebihan, bahkan hanya sampai pada hari raya saja. Pasca itu selesai tak ada tindak lanjut. Idul fitri yang seharusnya menjadi ajang rekonsiliasi, malah memunculkan sakit hati. Retakan-retakan baru, sehingga percuma belajar internalisasi diri melalui puasa. Lebaran juga dapat dijadikan indikator sosial ekonomi, bagaimana masih banyaknya ketimpangan sosial diantara kita.

Refrensi

http://etnohistori.org/anak-anak-orde-baru-dan-indonesia-sekarang-esai-oleh-aria-wiratma-yudhistira.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s